Rabu, 24 Januari 2018

Filsafat Hukum

MAKALAH

   ANALISIS YURIDIS TERHADAP PASAL 338 KUHP

Dosen pengampu: Prof. Dr. Abdul Ghofur Anshori, S.H., M.H.

Disusun oleh:
                                                    
                                                     Nama    : Yohanes Masudede                                                                                 
                                                           Nim       : 17120017


PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM
UNIVERSITAS JANABADRA
YOGYAKARTA
2017



KATA PENGANTAR

            Pertama-tama penulis panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan anugerahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa sebagai manusia biasa penulis tidak lepas dari sebuah kesalahan, oleh karena itu penulis sangat berharap kepada seluruh pembaca Khususya, dosen mata kuliah filsafat hukum yaitu bapak Prof. Dr. Abdul Ghofur Anshori, S.H., MH. dan bapak Sunarya, S.H., M.H. selaku asisten dosen, dan juga kepada seluruh teman-teman, sangatlah diharapkan agar dapat memberikan kritik dan saran terhadap makalah ini.                                                                                                                               Ucapan terima kasih yang mendalam penulis sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
                                                                                                                       
                                                                                    Yogyakarta, 31 Oktober 2017
                                                                                                    Penulis        

                                                                                           Yohanes Masudede                                     


DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL...........................................................................................  i
KATA PENGANTAR........................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN..................................................................................  1
            A. Latar Belakang Masalah.....................................................................  1
            B. Rumusan Masalah...............................................................................  2
            C. Tujuan................................................................................................... 3
            D. Manfaat................................................................................................  3
BAB II. PEMBAHASAN.....................................................................................  4
            A. Penerapan Sanksi Pidana...................................................................... 4
            B. Kajian Ontologi, Epistimologi, Akseologi............................................ 5
BAB III. PENUTUP..............................................................................................  9
            A. Kesimpulan........................................................................................... 9
            B. Saran.....................................................................................................  9
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 10


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
     Pada era perkembagan zaman yang semakin moderen, maka berbagai bidang kehidupan manusia akan mengalami perkembangan yang cukup pesat, sehingga hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, sangat diharapkan kepada negara agar mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul akibat dari berkembangnya era moderen saat ini. Persoalan yang seringkali muncul yaitu berkaitan dengan kejahatan terhadap nyawa seseorang yang dilakukan oleh orang-orang atau kelompok yang tidak berprikemanusian, dan dalam makalah ini penulis akan menjelaskan tindak pidana pembunuhan yang sebagaimana hal ini telah diatur dalam Pasal 338 KUHP. Karena nyawa adalah sebuah karunia pemberian Tuhan pada setiap insan manusia yang hal ini seharusnya tidak bisa dikurangi dalam hal atau keadaan apapun, untuk menjaga sebuah karunia dari Tuhan maka diperlukan sebuah aturan yang dapat melindungi setiap kehidupan manusia dalam masyarakat.                                                                        Kejahatan pembunuhan merupakan salah satu kejahatan yang sangat dilarang oleh hukum yang berlaku dan sering mendapat perhatian dari kalangan masyarakat. Tindak pidana pembunuhan adalah suatu perbuatan yang dengan sengaja maupun tidak, telah menghilangkan nyawa orang lain dengan cara yang melanggar hukum. Pembunuhan biasanya disebabkan oleh barbagai hal misalnya, masalah ekonomi, perbedaan pandangan, membelah diri dan sebagainya. Perkembangan kejahatan pembunuhan saat ini marak terjadi oleh karena itu, dalam penanganan terhadap kasus pembunuhan membutuhkan kinerja yang maksimal dari para penegak hukum, karena modus kejahatan pembunuhan semakin beraneka ragam dalam kehidupan masyarakat. Salah satu kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini yaitu pembunuhan terhadap Wayan Mirna Salihin yang dilakukan oleh temannya sendiri yaitu Jesika. Kasus pembunuhan ini menimbulkan reaksi dari masyarakat terhadap Jesika yang dimana masyarakat sangat menyesali perbuatan Jesika yang tega meracuni temannya sendiri menggunakan kopi sianida, dari kasus pembunuhan yang telah dijelaskan dan kemudian dikaitkan dengan bunyi Pasal 338 yaitu Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Maka dalam kasus ini sangat jelas bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Jesika merupakan suatu tindak pidana pembunuhan yang disengaja.                                                                 
Kesengajaan juga dapat diartikan sebagai kemauan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan perbuatan yang dilarang atau diperintahkan undang-undang oleh sebab itu, maka kesengajaan dalam peristiwa tindak pidana sangatlah dilarang maupun peristiwa hukum lainnya karena yang sangat dilarang adalah sifat atau adanya unsur sengaja di dalam suatu peristiwa pidana. [1]
B. Rumusan Masalah                                                                                                                               1. Bagaimanakah penerapan sanksi terhadap pelaku tindak pidana pembunuhan dalam Pasal 338 KUHP?
2.  Bagaimanakah penerapan sanksi pidana ditinjau dari aspek ontologi, epistimolgi, dan akseologi?
C. Tujuan                                                                                                                                                1.  Untuk mengetahui penerapan sanksi terhadap pelaku tindak pidana pembunuhan dalam Pasal 338 KUHP                                                                                                                                                        2. Untuk mengetahui penerapan sanksi ditinjau dari aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologi
D. Manfaat                                                                                                                                        Diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para akademisi yang mempelajari dan mendalami bidang hukum.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Penerapan Sanksi Pidana
            Penerapan sanksi pidana dalam suatu kejahatan merupakan salah satu unsur terpenting dalam hukum positif, mengingat kejahatan saat ini semakin marak terjadi maka penerapan sanksi pidana sangat diharapkan dapat memberikan efek jerah terhadap setiap pelaku kejahatan.                                        Suatu tindak pidana kejahatan pembunuhan secara moral merupakan hal yang salah, dan pemidanaan untuk setiap tindak kejahatan pembunuhan merupakan suatu hal yang benar secara moral, karena moralitas lebih melihat dari sisi perilaku seseorang yang melakukan suatu perbuatan tercelah dalam masyarakat dan hal ini biasanya akan mendapat reaksi dari masyarakat yang anti terhadap setiap kejahatan.[2] Dalam Pasal 338 KUHP mengatur bahwa Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Penjatuhan sanksi pidana terhadap setiap peristiwa tindak pidana pembunuhan yang diatur dalam Pasal 338 KUHP berlaku bagi setiap orang, dan oleh karena itu dalam menentukan apakah sebuah peristiwa pidana dilakukan secara sengaja atau tidak maka, harus memenuhi unsur obyektif dan subyektif dari pelaku tindak pidana. Penjatuhan hukuman pidana apabila dilihat dari rumusan Pasal 338 KUHP tersebut di atas, maka hukuman bagi pelaku tindak pidana pembunuhan secara aturan hukum yang berlaku yaitu paling lama lima belas tahun penjara, dan penjatuhan hukuman ini dapat diputuskan oleh hakim apabilah pelaku melakukannya dengan cara sengaja dan tidak menutup kemungkinan hukuman penjara yang diputuskan oleh hakim tidak mencapai hukuman lima belas tahun penjara karena melalui pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan pada saat persidangan. Pada dasarnya hukum pidana yaitu mencari kebenaran materill, maksudnya yaitu bahwa setiap perilaku seseorang dalam kaitannya dengan hukum pidana lebih dititikberatkan pada perbuatannya atau aturan yang sudah mengatur perbuatan tersebut, sehingga apabilah itu dilanggar maka akan dikenakan sanksi yang sangat berat bagi pelaku tindak pidana.
B. Sanksi Pidana Ditinjau dari Kajian Ontologi, Epistimologi, dan Akseologi
1. Kajian Ontologi                                                                                                                                           Yang dimaksud dengan kajian secara ontologi dalam ilmu filsafat hukum yaitu (metafisika) yang membahas tentang hakikat mendasar daripada  keberadaaan sesuatu yang telah ada.[3] Keberadaan sesuatu yang dimaksud dalam hubungannya dengan penerapan sanksi pidana yaitu, apakah penerapan suatu sanksi pidana di dalam masyarakat merupakan suatu keharusan sehingga setiap perbuatan pidana akan dikenakan sanksi yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Kajian secara ontologi akan menelaah setiap penerapan sanksi pidana di dalam masyarakat, yang di mana hasil telaah terhadap setiap perbuatan pidana akan menunjukan apakah keberadaan penerapan sanksi pidana memang perlu diperlukan atau tidak, yang dalam hal ini berkaitan dengan titik tolak kajian subtansial dari ilmu hukum. Penerapan suatu sanksi pidana dalam kenyataan hidup masyarakat memang sangat diperlukan karena karena hal ini menginat makin maraknya perbuatan pidana yang terjadi di dalam masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan suatu sanksi dalam tindak pidana pembunuhan dalam kehidupan masyarakat merupakan suatu keniscayaan. Karena tujuan dari pemidanaan itu sendiri yaitu merubah perilaku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat yang harapannya setelah dijatuhkan hukuman pidana ini dapat menciptakan kehidupan masyarakat yang tertib, aman dan damai. Tapi seringkali perbuatan dari seseorang yang melakukan tindak pidana dalam kehidupan masyarakat sering dikucilkan oleh sekelompok masyarakat.
2. Kajian Epistimologi                                                                                                                                  Epistimologi atau teori tentang pengetahuan yaitu membicarakan tentang bagaimana manusia mampu mengkaji dan memperoleh suatu pengetahuan yang ada  saat ini.[4] Kajian dari aspek epistimologi terhadap penerapan suatu tindak pidana pembunuhan dalam masyarakat merupakan suatu hal yang sangat penting. Oleh karena itu, dalam kajian secara epistimologi akan membahas tentang pengetahuan yang diperoleh, setelah memperoleh pengetahuan maka ukuruan kebenaran dari suatu pengetahuan itu seperti apa, dan kemudian disusunlah sebuah pengetahuan yang telah diperoleh tersebut ke dalam suatu peraturan.[5] Penerapan suatu sanksi tindak pidana pembunuhan yaitu melalui suatu pengkajian oleh manusia terhadap suatu masalah yang terjadi dan faktor-faktor yang mempengaruhi dari masalah tersebut sehingga ditemukan berbagai sumber masalah yang terjadi. Ukuran kebenaran dari penerapan suatu tindak pidana yaitu karena kejahatan terhadap nyawa merupakan suatu perbuatan yang sangat di kecam di dalam masyarakat. Oleh karena itu, dalam mengantisipasi setiap tindak pidana pembunuhan yang terjadi di masyarakat maka disusunlah sebuah peraturan yang melarang setiap tindak pidana yang terjadi di masyarakat.                                                    Penyusunan sebuah aturan dalam kasus tindak pidana akan menjadi dasar atau sumber dalam menjatuhkan sebuah putusan pidana terhadap seorang pelaku tindak pidana pembunuhan, yang dimana hal ini sudah dilakukan pengkajian terhadap suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.                        
3. Kajian Akseologi                                                                                                                                          Akseologi atau teori tentang nilai yaitu cabang filsafat yang membicarakan tentang orientasi nilai dalam kehidupan manusia. Teori tentang nilai ini berusaha menjawab bagaimana manusia harus bertingkalaku di dalam masyarakat, yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap baik dan benar menurut masyakarat dan pandangan agama.[6]                                                                                           Nilai dapat diartikan sebagai sesuatu yang berguna bagi masyarakat oleh karena itu, dalam menjatuhkan setiap hukuman terhadap pelaku tindak pidana kejahatan pembunuhan yaitu sangat diharapkan agar dapat berguna bagi korban dan masyarakat secara umum. Berguna dapat dartikan sebagai bentuk perlindungan terhadap korban yang hak-hak telah direbut oleh pelaku kejahatan. Suatu tindak kejahatan pembunuhan merupakan suatu kejahatan yang dalam masyarakat dianggap telah melanggar nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dan melukai nilai-nilai agama. Seihngga dalam penerapan sanksi pidana terhadap pelaku kejahatan pembunuhan diharapkan memberikan suatu keadaan yang dapat merubah perilaku sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB III
PENUTUP
     
A. Kesimpulan
1. Penerapan Sanksi Pidana                                                                                                                           Penerapan suatu sanksi terhadap pelaku kejahatan pembunuhan merupakan suatu hal yang sangat penting dan harus dilakukan oleh para penegak hukum, karena setiap peristiwa tindak pidana yang terjadi saat ini yaitu sangat meresahkan bagi kalangan masyarakat. Penerapan Pasal 338 KUHP merupakan langkah baik dalam meminimalisir sebuah kejahatan, sehingga pelaku kejahatan dapat merasakan akibat yang telah dilakukan, dan setiap pelaku kejahatan pembunuhan layak untuk di hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2. Kajian Ontologi, Epistimologi dan Akseologi                                                                                         Penerapan sebuah sanksi pidana terhadap pelaku kejahatan pembunuhan akan lebih baik apabilah para penegak hukum dapat melakukan kajian terhadap suatu masalah dengan menaggunakan kajian dari aspek ontologi, epistimologi dan akseologi.
B. Saran                                                                                                                                                        Penerapan sanksi pidana terhadap tindak pidana pembunuhan yang diatur dalam Pasal 338 KUHP, akan lebih baik apabilah para penegak hukum melakukan kajian terlebih dahulu sebelum menjatuhkan sebuah putusan bagi seorang pelaku tindak pidana.                                    
                                               
DAFTAR PUSTAKA


I. LITERATUR

Abdul Ghofur Anshori. 2009. Filsafat Hukum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ahmad Taufik Nasution. 2016. Filsafat Ilmu Hakikat Mencari Pengetahuan.          Yogyakarta: Deepublish.

Marpaung. Leden. 2005. Asas Teori Praktik Hukum Pidana. Jakarta: Sinar             Grafika.

Bakhri, Syaiful. 2013. Hukum Pidana Perkembangan Dan Pertumbuhannya.         Jakarta: totalmedia.


II. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

                                                                                                                                                             




[1] Leden Marpaung, 2005, Asas Teori Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 13
[2] Syaiful Bakhri, 2013, Hukum Pidana Perkembangan Dan Pertumbuhannya, totalmedia, Jakarta, hlm. 246
[3] Abdul Ghofur Anshori, 2009, Filsafat Hukum, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, hlm.1
[4] Ahmad Taufik Nasution, 2016, Filsafat Ilmu Hakikat Mencari Pengetahuan, Deepublish, Yogyakarta, Hlm. 34
[5] Op.Cit. Hlm. 1
[6] Op.Cit. hlm. 34

Filsafat Hukum

MAKALAH    ANALISIS YURIDIS TERHADAP PASAL 338 KUHP Dosen pengampu: Prof. Dr. Abdul Ghofur Anshori, S.H., M.H. Disusun oleh: ...